pandangan alquran tentang penyaliban nabi isa alaihissalam adalah

NabiYahya lahir saat Nabi Zakaria sedah lanjut usia, sehingga beliau berdo'a agar diberi keturunan oleh Allah. Kisahnya terdapat dalam AlQur'an berikut ini'. Qur'an surat Maryam. 4. Zakaria berkata, Hai Tuhanku, sesungguhnya telah lemah tulangku dan telah penuh uban di kepalaku, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau ya Tuhanku BerkataNabi-Isa : "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku kitab suci (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seor KemudianNabi Isa mengulangi lagi, tetapi pemuda itulah yang berdiri, maka Nabi Isa berkata, "Duduklah!" Kemudian Nabi Isa mengulangi lagi, maka bangkitlah pemuda itu dan berkata, "Saya." Beliau pun berkata, "Engkaulah orangnya." Maka Allah serupakan orang itu dengan rupa Nabi Isa dan mengangkat Nabi Isa dari lubang angin di rumahnya ke langit. Maqdis 25/08/2020. Tafsir Surat An-Nisa'. Ayat 156. Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan Allah, karena kekafiran mereka terhadap Nabi Isa dan Nabi Muhammad, karena tuduhan mereka terhadap Maryam merupakan kedustaan yang besar bahwa Maryam melakukan zina dengan seorang yang bernama Yusuf an Vay Nhanh Fast Money. Pandangan islam di Al-Qur’an tentang disalibnya nabi isa Itu tidak benar. Allah telah membantah hal tersebut dalam Al-Qur’an surah An-nisa’ 157. Menurut islam Apakah Nabi Isa di salib? Kita cukup menyebutkan bahwa dalam ajaran Islam, khususnya dalam Al-Qur’an, nabi Isa diangkat oleh Allah swt tidak dibunuh dan tidak pula disalib. Apakah Yesus atau Nabi Isa benar benar disalib? Dua ayat di atas dengan tegas menjelaskan bahwa Nabi Isa tidak dibunuh, tidak disalib, tapi Allah selamatkan jasad dan ruhnya, dengan Allah angkat ke langit. Apakah Nabi Isa as dibunuh dan disalib? Nabi Isa tidak disalibkan dan tidak pula dibunuh, tetapi Allah Swt. mengangkatnya dan akan turun lagi ke bumi untuk membunuh dajjal saat kiamat nanti. Siapa pengganti Nabi Isa yang disalib? Menurut tradisi Islam, Nabi Isa Yesus tidak dibunuh atau disalib. Al-Qur’an menerangkan dalam surat An Nisaa’157 bahwa Isa tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa, yaitu Yudas Iskariot. Siapa nabi yang disalib? Saat seorang berwajah Nabi Isa disalib hingga mati itu, Yahudi berkata dengan sombongnya “Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam, yaitu utusan Allah,” QS. An-Nisaa’ 157. Kenapa Nabi Isa Alaihissalam disalib? Seorang pengikut Nabi Isa, Yahudza al-Askharyuthi berkhianat dengan memberitahu tempat persembunyian Nabi Isa. Namun, Allah juga membuat tipu daya bagi orang-orang tersebut. Allah mengangkat Nabi Isa ke langit dan menggantikan dengan seseornag yang mirip dengan Nabi Isa. Orang itu lalu dibunuh dan disalib. Kenapa Islam tidak percaya Yesus disalib? Muslim tidak percaya Yesus adalah Tuhan bukan karena tidak ada pernyataan dalam Alkitab, tapi karena Al Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa Yesus adalah salah satu Rasul Allah. Silahkan cek surah Maryam ayat 29–32. Apakah Yesus itu Yudas Iskariot? Yudas Iskariot merupakan satu dari 12 murid Tuhan Yesus . Dalam kelompok Yesus, ia menjabat sebagai bendahara. Namun, dirinya bukan bendahara yang baik karena kerap mencuri uang untuk kebutuhan pribadi. Apakah Nabi Isa dibunuh? Surat An-Nisa’ Ayat 157, Nabi Isa Tidak Dibunuh oleh Yahudi. Mengapa Yudas mengkhianati Nabi Isa AS? Yudas tergiur dengan hadiah yang dijanjikan raja romawi. spontan dia berkhianat pd Nabi Isa dan beritahu tempat persembunyian Nabi Isa pd pasukan romawi. Tetapi Allah mengangkat Nabi Isa ke langit, dan wajah Yudas diserupakan oleh Allah dgn wajah Nabi Isa. Siapa yang digantung di salib? Yesus digantungkan pada kayu salib dengan dipaku kedua tangan dan kaki-Nya. Ia mulai digantung di salib sejak sekitar pukul 9 pagi. Siapakah nama kedua orang yang disalibkan bersama Yesus? Jawaban orang yang disalib bersama yesus adalah dimas. dismas adalah salah seorang dari dua penjahat yang disalib kan di sebelah kiri dan sebelah kanan yesus. Apakah Yudas mengkhianati Nabi Isa? Yudas Iskariot yang disalib menggantikan Nabi Isa Membicarakan tentang pengkhianat dalam sejarah Islam, mayoritas orang pasti ingat akan kisah Yudas Iskariot yang mengkhianati Nabi Isa. Apa agama nabi Isa as? Nabi Ibrahim, Sulaiman, Yusuf, Isa dan nabi–nabi yang lain, semuanya beragama Islam. Mereka semua menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Siapakah Yudas Iskariot dalam Alkitab? Yudas Iskariot adalah seorang murid yang telah mengkhianati Yesus menurut catatan Alkitab. Di dalam Injil Yudas, perspektif yang dipakai untuk melihat Yudas Iskariot amat berbeda dari yang selama ini dikenal dari Alkitab. Apa yang terjadi jika Yesus tidak mati di kayu salib? Tanpa keselamatan Tuhan Yesus, kita semua manusia akan dihukum sampai mati oleh hukum karena gagal mematuhi hukum, jika keadaan terus berlanjut, seluruh umat manusia pada akhirnya akan runtuh di bawah hukum, dan makna Tuhan menciptaankan manusia akan hilang. References Pertanyaan Lainnya1Jelaskan Yang Perlu Diperhatikan Pada Saat Menggiring Bola?2Jarak Interval Nada G Ke Nada F Adalah?3Lagu Rayuan Pulau Kelapa Dinyanyikan Dengan Tempo?4Lion Habitat Food Activity Characteristics?5Contoh Penyimpangan Sosial Yang Dilakukan Oleh Kelompok Adalah?6Langkah Langkah Menyusun Teks Iklan Slogan Dan Poster?7Setelah Praktik Tanam Paksa Dihapuskan Hal Yang Terjadi Adalah?8Pencernaan Protein Terjadi Pada Organ?9Bedakan Sistem Pembayaran Batch System Dan Wholesale Payment?10Dengan Apa Makanan Tradisional Disajikan Atau Dikemas? Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya “Dan karena ucapan mereka orang-orang Yahudi Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” An-Nisa’ 157-158 Para pembaca, sangatlah pantas jika orang-orang Yahudi adalah sekelompok manusia yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah subhanahu wata’ala. Perangainya yang licik dan perilakunya yang jahat menjadikan mereka sebagai umat yang hina dan rendah. Banyak ayat Al-Qur’an yang telah menjelaskan tentang watak dan sepak terjang Yahudi yang tercela ini. Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah subhanahu wata’ala yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau. Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya. Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa alaihissalam. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa alaihissalam dari makar jahat mereka. Allah subhanahu wata’ala tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi. Peristiwa Penyaliban Itu Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-­orang Yahudi -semoga laknat Allah subhanahu wata’ala, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allah subhanahu wata’ala mengutus Isa bin Maryam alaihissalamdengan membawa bukti-­bukti kebenaran risalah-Nya yang nyata dan petunjuk, mereka orang-orang Yahudi dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah subhanahu wata’ala berupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata. Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak penyakit belang pada kulit, menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah subhanahu wata’ala, mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah subhanahu wata’ala, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah subhanahu wata’ala tehadap beliau alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah subhanahu wata’ala melalui kedua tangan Nabi Isa alaihissalam. Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa alaihissalam tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya Maryam pun ikut mengembara bersama beliau alaihissalam. Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq Damaskus di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani. Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan berita dusta kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya kepala daerah yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi. Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isaalaihissalam. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut. Ketika Nabi Isa alaihissalam merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia terpaksa keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabat­nya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa alaihissalam memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali. Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa alaihissalam pun berkata, “Kalau memang demikian, kamulah orangnya.” Maka Allah subhanahu wata’ala menjadikannya mirip seperti Nabi Isa alaihissalam, hingga seolah-olah ia me­mang Nabi Isa alaihissalam sendiri. Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa alaihissalam tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah subhanahu wata’ala mengangkat beliau alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 55. Setelah Nabi Isa ’alaihissalam diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa alaihissalam melihat pemuda yang mirip Nabi Isa alaihissalam itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa alaihissalam. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan ­duri-duri di kepalanya. Orang-­orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa alaihissalamdan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-­orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut bahwa Nabi Isa alaihissalam disalib karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka. Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa alaihissalam diangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-­orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam alaihissalam. Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan sebuah mitos bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa alaihissalam yang mereka sangka disalib itu bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. lihat Tafsir Ibnu Katsir Mereka Sendiri Meragukannya Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa alaihissalamatau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan artinya “Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” An-Nisa’ 157. Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al–Masih Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa alaihissalam Yesus menurut mereka sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah subhanahu wata’ala telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa alaihissalam masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah subhanahu wata’alaakan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan. Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa alaihissalam senantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allahsubhanahu wata’ala. Nabi Isa alaihissalam tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isaalaihissalam tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, “Dan ingatlah ketika Allah berfirman “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah?” Isa menjawab “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya.” Al-Maidah 116 Kalau Nabi Isa alaihissalam menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih sendiri berkata “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.” Al-Maidah 72 Allah subhanahu wata’ala juga berfirman artinya, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” Al-Maidah 73 Allah subhanahu wata’ala juga berfirman artinya, “Orang-orang Yahudi berkata “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” At-Taubah 30 Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa alaihissalam akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah upeti sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau shallallahu alaihi wasallam وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ. “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya Demi Allah, sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil yang menjalankan syariat ini, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan tidak memberlakukan jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” Muttafaqun Alaihi Wallahu a’lam bish shawab. 136 FOLLOW untuk mengikuti artikel-artikel mencerahkan Follow Us IslamLib – Apakah benar Yesus disalib atau tidak? Apakah penyaliban adalah kejadian yang secara historis pernah berlangsung? Umat Islam, selama ini, berkeyakinan bahwa Yesus atau Nabi Isa sama sekali tidak pernah disalib. Berbeda dengan pandangan yang dominan dalam kekristenan, umat Islam menolak penyaliban Yesus. Biasanya, dasar yang dipakai oleh umat Islam adalah sebuah penegasan dalam Quran sebagaimana tergambar dalam ayat no. 157 di Surah Al-Nisa’ surah ke-4. Ayat ini menegaskan bahwa Isa tidak pernah dibunuh dan disalibkan sebagaimana disangkakan oleh orang-orang Yahudi selama ini ingat Quran justru menyebut orang-orang Yahudi, bukan Kristen. Melainkan “diserupakan” wajahnya dengan wajah orang lain. Redaksi yang dipakai adalah “wa lakin syubbiha lahum.” Jika kita ikuti ayat-ayat yang ada sebelum atau setelah ayat no. 157 itu, akan tergambar sebuah konteks yang menarik. Konteks ayat ini sebetulnya bukanlah polemik atau debat antara pihak Islam dan Kristen. Memang ada “polemik” tersembunyi di sana, tetapi bukan diarahkan kepada pihak Kristen, melainkan Yahudi. LIKE untuk mengikuti artikel-artikel mencerahkan Konteks ayat itu adalah kritik terhadap orang-orang Yahudi yang melakukan banyak pembangkangan terhadap perintah Tuhan, melakukan pembunuhan atas nabi-nabi, dan mempersekusi Nabi Isa. Mereka menyangka telah membunuh nabi dari Nazaret itu, tetapi sebetulnya tidak. Mereka, menurut Quran, sejatinya tidak pernah membunuh dan menyalibkan Isa/Yesus, sebab yang mereka salibkan adalah “orang lain” yang serupa dengan dia. Jika kita telaah ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” yang ada dalam ayat tadi, tidak dengan terang dan jelas ia menunjukkan bahwa proses penyaliban itu berlangsung melalui proses “dissimulasi” atau pengecohan dengan cara penyerupaan – ada orang lain yang serupa wajahnya dengan Yesus lalu disalibkan. Ayat itu tidak menjukkan dengan jelas pengertian semacam ini. Menurut saya, pengertian semacam ini datang dari para penafsir Muslim belakangan. Yang menarik, tidak ada keterangan dari Nabi Muhammad sendiri sebagai penerima wahyu mengenai makna ayat tersebut. Para sahabat Nabi, anehnya, juga tidak merasa perlu menanyakan perkara ini kepadanya. Ini semua sekaligus menambahkan suatu misteri yang menyelimuti ayat ini. Apa sebetulnya makna ayat itu? Kenapa tidak pernah menjadi soal yang perlu diklarifikasi oleh para sahabat? Apakah pada zaman Nabi perkara penyaliban Yesus dianggap sebagai “non-issue”, sebab tak ada komunitas Kristen yang cukup siginifikan di Madinah, tempat tinggal Nabi? Kemungkinan-kemungkinan semacam itu bisa saja terjadi. Tetapi, bagi saya, teka-teki tentang ayat penyaliban ini masih terus membuka banyak penafsiran. Para penafsir Quran sendiri mengajukan sejumlah kemungkinan penafsiran yang, menurut saya, hanya didasarkan pada spekulasi belaka. Kebingungan para penafsir Quran ini, jika mau diusut-usut, kembalinya kepada satu soal saja sebab tak ada “dalil naqli” dalil tradisional yang bersumber dari Quran atau sunnah/hadis yang memberikan keterangan apa sebetulnya makna ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” dalam ayat di atas. Andai ada keterangan dari Nabi, atau Quran sendiri menjelaskan apa makna ungkapan itu, sudah tentu masalahnya akan selesai. Dalam Mafatih al-Ghaib karya Fakhr al-Din al-Razi w. 1209, karya tafsir yang banyak dibaca di kalangan sunni, terdapat diskusi yang menarik tentang perbedaan para penafsir klasik mengenai makna ayat ini, juga tentang sejumlah masalah yang dipicu olehnya. Salah satu masalah yang timbul dari ayat ini, menurut al-Razi, adalah kemungkinan hancurnya kepercayaan kita terhadap “al-mahsusat” hal-hal yang bisa diindera yang merupakan dasar dari pengetahuan manusia. Bagaimana ini terjadi? Penjelasannya adalah sebagai berikut. Jika kita membenarkan kemungkinan “penyerupaan” atau dissimulasi seperti diungkap dalam ayat itu, kita bisa kehilangan kepercayaan pada apapun yang kita lihat di dunia ini. Kita melihat teman kita bernama Budi, misalnya. Tetapi mungkin dia bukan Budi, melainkan orang lain yang wajahnya serupa dengan Budi. Jika ini diterus-teruskan, kita bisa mengatakan bahwa para sahabat melihat Nabi, tetapi yang mereka lihat sebetulnya bukan Nabi, melainkan orang lain yang wajahnya serupa dengan dia. Dengan kata lain, anggapan bahwa Yesus tidak disalibkan, melainkan Tuhan menaruh orang lain yang wajahnya serupa dengan dia, bisa membuka Kotak Pandora yang sangat berbahaya. Sebab kita bisa kehilangan kepercayaan kepada apapun yang dilihat oleh mata kita sendiri. Kita kehilangan pegangan terhadap dasar paling elementer dari pengetahuan manusia, yaitu al-mahsusat, hal-hal yang bisa diindera the sensible. Al-Razi mengatakan, pandangan semacam ini akan membuka apa yang ia sebut sebagai pintu “sophistry” fa-hadza yaftah bab al-safsathah Mafatih al-Ghaib, jilid ke-6, hal. 79. Apa yang dirujuk oleh al-Razi di sini adalah pandangan kaum Sofis dalam sejarah filsafat Yunani yang kita kenal dengan skeptisisme atau keraguan mereka terhadap pengetahuan-pengetahuan yang bersumber dari indera manusia. Bagi filsuf/teolog Muslim seperti al-Razi, sofisme semacam ini mengandung bahaya besar sebab menghancurkan salah satu dasar penting dalam agama, yaitu al-khabar al-mutawatir berita yang diceritakan banyak orang sehingga mustahil bohong. Dengan kata lain, penafsir Quran sendiri seperti al-Razi memiliki “misgiving” atau keragu-raguan terhadap pengertian ayat di atas. Tafsiran-tafsiran pihak Muslim yang dikutip oleh al-Razi, menurut saya, tidak cukup meyakinkan. Sejumlah tafsir itu saya kutipkan di sini. Kemungkinan pertama Saat orang-orang Yahudi hendak membunuh Yesus, Tuhan segera mengangkat dan menerbangkannya ke langit. Takut karena kegagalan membunuh dan menyalib Yesus akan menimbulkan protes dari kaum awam, para elit Yahudi bersekongkol untuk membunuh seseorang secara random, lalu mereka katakan bahwa orang itu adalah Yesus. Sebab, kebanyakan orang awam Yahudi tidak tahu wajah Yesus secara persis. Komentar saya atas tafsiran semacam ini Ini hanyalah spekulasi yang tanpa dasar. Anggapan orang-orang awam Yahudi di Jerusalem tak mengenal wajah Yesus jelas tak masuk akal. Nyaris mustahil membayangkan tak ada satupun yang tidak mengenali wajah Yesus sementara dia menjadi berita besar di Yerusalem karena telah menimbulkan “kekacauan” di Bait Allah. Kemungkinan kedua seperti dituturkan oleh al-Razi Saat orang-orang Yahudi mengetahui bahwa Yesus berada di sebuah rumah mungkin yang dimaksud adalah Taman Getsemani?, mereka mengutus seseorang bernama Titaeus ? untuk mejemputnya, menyeretnya keluar, dan membunuhnya. Saat itulah, Tuhan turun tangan dengan mengangkat Yesus, mengeluarkannya dari rumah itu lewat atap, dan menaruh orang lain yang mirip dia sebagai pengganti. Komentar saya Jika kemungkinan ini kita terima, tentu dia akan bertabrakan dengan keterangan al-Razi sebelumnya tentang ketidak-mungkinan skenario dissimulasi, sebab hal itu akan menghancurkan sendi-sendi pengetahuan kita, seperti sudah diutarakan oleh al-Razi sebelumnya. Yang menarik, jika kita baca tafsir-tafsir klasik, sangat kentara bahwa para penafsir Quran merasa tidak perlu mengkonfirmasi soal ini terhadap sumber-sumber Kristen atau non-Kristen. Peristiwa penyaliban Yesus secara historis memang tarjadi dan sulit ditolak. Salah satu sumber non-Kristen yang mengkonfirmasi peristiwa ini adalah kesaksian sejarawan Yahudi Yosephus dalam karyanya yang terkenal, Jewish Antiquities. Agak aneh bahwa penafsir Quran ini masuk ke wilayah sejarah penyaliban Yesus tetapi tidak merujuk kepada sumber-sumber di luar Islam, minimal sumber Kristen. Sementara pihak Islam sendiri tidak memiliki sumber sejarah yang “otonom”. Ini sama saja dengan seorang di luar Islam yang menulis sejarah tentang Nabi Muhammad tapi sama sekali tidak merujuk sumber-sumber Islam. Akibatnya, yang kita lihat adalah sejumlah spekulasi tak berdasar seperti yang kita baca dalam tafsir-tafsir klasik seperti karya al-Razi itu. Yang menarik, al-Razi menyebutkan sebuah data tentang penafsiran kelompok Nestorian mengenai penyaliban Yesus ini. Nestorianisme adalah sekte Kristen yang banyak berkembang di kawasan Arab dan berpusat di Persia. Sekte ini dinyatakan sesat melalui Konsili Efesus yang pertama pada 431. Kelompok Nestorian mengajukan sebuah penafsiran berikut yang dibunuh dan disalibkan adalah tubuh Yesus sebagai manusia, bukan Yesus yang mengandung dimensi atau unsur ketuhanan. Al-Razi mengulas panjang lebar pandangan ini yang mengesankan pada saya bahwa seolah-olah dia memberikan persetujuan, atau sekurang-kurangnya simpati pada pandangan ini. Saya memiliki tafsiran sendiri atas ayat mengenai penyaliban Yesus ini. Tesis yang saya ikuti ialah sebagai berikut Apa yang disebut sebagai kristologi atau pandangan Quran tentang Kristen termasuk tentang Yesus tidaklah datang dari ruang kosong. Kristologi Quran pada dasarnya hanyalah semacam seleksi terhadap pandangan-pandangan teologis yang sudah ada dalam Kristen. Quran hanya memihak salah satu pendapat sekte tertentu yang ia anggap cocok dengan wawasan teologisnya. Quran tak membawa “pendapat” yang baru sama sekali. Sebagaimana kita tahu, apa yang disebut sebagai doktrin Kristen ortodoks doktrin yang pakem dan dianggap benar seperti dirumuskan dalam sejumlah konsili awal dulu konsili sidang para uskup “sedunia” untuk membahas masalah-masalah doktrinal; semacam forum Bahsul Masa’il-nya Nahdlatul Ulama, bukanlah doktrin yang muncul mendadak, tetapi lahir secara gradual. Pada abad ke-2 dan ke-3, Kristen yang masih dalam masa pertumbuhan menyaksikan banyak sekali perdebatan dan perpecahan internal di sekitar soal-soal doktrinal. Perpecahan ini terutama menyangkut hakekat ketuhanan dan kemanusiaan Yesus, serta bagaimana doktrin trinitas harus dipahami. Ini sama dengan kemunculan berbagai sekte dalam Islam sepeninggal Nabi Muhammad dulu. Masa-masa sebelum terbentuknya ortodoksi Sunni dan Syiah, masyarakat Islam menyaksikan perdebatan teologi yang keras dan menimbulkan sekte yang bermacam-macam. Sebagaimana dalam kasus Kristen, perpecahan dalam Islam juga terjadi pada masa-masa awal sebelum apa yang disebut ortodoksi baik Sunni atau Syiah terbentuk secara mapan. Salah satu sekte Kristen awal adalah kelompok yang disebut sekte Docetis. Sekte ini berpandangan bahwa “Sang Juruselamat itu tanpa kelahiran dan tanpa tubuh jasmani serta tanpa rupa dan hanya dalam penampakan Dia kelihatan seperti seorang manusia.” Baca Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen [BPK Gunung Mulia, 2003], hal 93. Doketisme berasal dari kata Yunani dokesis yang artinya penampakan. Sekte ini berkeyakinan bahwa Yesus hanyalah dalam penampakannya saja memiliki tubuh manusia. Sekte Docetis adalah sekte sempalan dari sekte lain yang disebut Gnostisisme. Kelompok yang terakhir ini memiliki pandangan tentang dualitas tubuh dan roh. Mereka berkeyakinan bahwa tubuh manusia hanyalah bentuk yang maya, penjara bagi roh manusia. Baik kelompok Docetis maupun Gnostik berkembang pada abad ke-2 Masehi pada saat Kristen masih dalam fase pertumbuhan. Dalam pandangan saya, sejarah pertikaian sektarian dalam Kristen awal ini bisa menjelaskan sejumlah “misteri” mengenai kristologi Quran. Penolakan Quran terhadap penyaliban Yesus dan pandangannya bahwa telah terjadi proses “tasybih” atau penyerupaan dissimulation mengingatkan kita pada pandangan sekte Docetis ini. Sekte-sekte Kristen yang dianggap “sesat” memang banyak berkembang di kawasan Timur, termasuk di daerah Arab. Sangat mungkin bahwa pandangan Muhammad mengenai penyaliban Yesus sebagaimana direkam dalam QS 4157 itu dipengaruhi oleh sekte Docetis tersebut. Ungkapan “wa lakin syubbiha lahum” menjadi terang benderang jika dipahami melalui pandangan sekte Docetis yang dianggap sesat oleh gereja utama ini. Makna ayat itu, dengan demikian, menjadi demikian mereka orang-orang Yahudi tidak membunuh dan menyalibkan Yesus, melainkan mereka hanya membunuh tubuh penampakan dokesis Yesus yang mirip dengan dia. Ini mengkonfirmasi tesis saya di atas kristologi Quran tidak membawa hal baru, melainkan hanya menyeleksi satu pandangan di antara sekian pandangan yang ada dalam pemikiran teologi Kristen. Dalam hal penyaliban Yesus ini, Quran memilih menyeleksi pandangan sekte Docetis sebagai pandangan teologis yang lebih sesuai dengan wawasan yang dianut Quran. Meskipun, sekali lagi, pandangan sekte ini dipandang sebagai bidaah atau sesat oleh gereja mainstream.[] Siapakah Yang Disalib Menggantikan Isa? - Di antara akidah yang wajib diyakini oleh umat Islam adalah bahwa Nabi Isa alaihissalam masih hidup dan saat ini beliau alaihissalam di langit. Kelak beliau akan turun menjelang hari Kiamat untuk memerangi Dajjal. Adapun orang Yahudi meyakini bahwa mereka telah membunuh Isa dan menganggap Isa kafir. Sementara orang Nasrani/Kristen berkeyakinan bahwa Isa disalib dan mati untuk menebus dosa umat manusia. Adapun akidah umat Islam, itulah yang benar. Allah Ta’ala mengangkat Isa ke langit, menyelamatkannya dari pembunuhan dan penyaliban orang-orang Yahudi. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. An-Nisaa’ 158 Pada tulisan kali ini kita akan membahas mengenai siapa sebenarnya yang disalib menggantikan Isa alaihissalam. Apakah Yudas Iskariot yang menggantikan Isa? dan karena ucapan mereka "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. An-Nisaa’ 157 Mengenai tafsir ayat di atas, terdapat riwayat yang shahih sampai Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma. Beliau menjelaskan, Ketika Allah hendak mengangkat Isa 'alaihissalam ke langit, beliau menemui para muridnya dan ketika itu di rumah ada 12 lelaki Hawariyyin. Kemudian 'Isa mengatakan, “Siapakah di antara kalian yang wajahnya digantikan seperti wajahku, lalu dia akan dibunuh menggantikan aku, dan dia akan mendapatkan surga yang derajatnya sama denganku. Lalu berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya, “Saya.” “Duduk.” Kata Nabi Isa 'alaihissalam. Nabi 'Isa 'alaihissalam mengulang lagi tawarannya, dan pemuda itu angkat tangan dan menyatakan “Saya.” Nabi Isa tetap menyuruhnya untuk duduk. Hingga berlangsung sampai 3 kali. Saat yang ketiga, pemuda ini angkat tangan, “Saya.” Lalu Nabi 'Isa mengatakan, “Baik, kamu orangnya.” Lalu dia diserupakan dengan 'Isa dan 'Isa diangkat melalui lubang angin yang ada di atap, menuju langit. Kemudian datanglah orang Yahudi yang mencarinya, mereka langsung menangkap manusia yang mirip itu, dan langsung membunuhnya, lalu mensalibnya. Tafsir Ibnu Katsir, 2/449. Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar, Sanadnya shahih sampai Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhuma. Demikian pula yang dijelaskan beberapa ulama salaf, bahwa Isa berkata ke mereka, Siapa yang bersedia wajahnya diserupakan dengan wajahku, lalu dia dibunuh menggantikanku dan balasannya dia akan menemaniku di surga.’ Tafsir Al-Quranul Adzhim karya Ibnu Katsir, 2/450. Dalil di atas menunjukkan bahwa yang menggantikan Isa bukanlah orang yang jahat dan berkhianat. Akan tetapi yang menggantikannya adalah salah seorang dari Hawariyyin, yakni murid-murid Isa yang setia. Mengenai siapa namanya tidak ada dalil sahih baik dari Al-Quran maupun hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apakah Yudas Iskariot? Orang Kristen/Nasrani beranggapan Yudas. Akan tetapi Allahu a’lam. Tidak ada dalil sahih mengenai hal itu. Perlu kami ingatkan bahwa siapapun namanya dan siapapun dia yang menggantikan Isa, itu tidak akan menambah iman kaum muslimin. Jadi, kita tidak perlu mencari tahu namanya. Kendatipun ada penelitian sejarah yang mengungkapkan siapa yang menggantikan Isa, itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap kita umat Islam. Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 6 Rabiul Akhir 1439 Hijriyah/24 Desember 2017 Masehi.

pandangan alquran tentang penyaliban nabi isa alaihissalam adalah